Tentang NU Sudan

Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Khartoum Sudan didirikan pada tanggal 1 Muharram 1420 H, bertepatan dengan tanggal 6 April 2000 M, bertempat di Masjid Agung Khartoum Sudan dengan dikomandani oleh Bapak Dr. H. Ahmad Sayuti Anshori Nasution, MA sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Muhammad Sangid, MA sebagai Ketua Tanfidziah, periode 2000-2001 M.

Berdirinya PCI NU Khartoum Sudan tidak lepas dari kebutuhan untuk belajar berorganisasi, berdakwah dan bermasyarakat. Meskipun banyak tantangan dan rintangan, baik ekstern maupun intern, tapi al-hamdulillah berkat rahmat dan inayah Allah Subhanahu wa Ta’ala PCI NU Khartoum Sudan tetap eksis sampai sekarang.

Dalam perjalanan sejarahnya, saat ini PCI NU Khartoum Sudan telah masuk pada periode keempat untuk mengemban amanat kepengurusan yang terbagi dalam dua periode :

Pertama : Periode Tasis

Yaitu tiga periode kepengurusan pertama sebagai periode peletak dasar dan konsolidasi baik dalam aspek Jam’iyah maupun Jama’ah, periode ini dimulai pada:

A. Masa khidmat 2000-2001 dipimpin oleh Bapak Dr. H. Ahmad Sayuti Anshori Nasution sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Ahmad Sangid, MA. sebagai Ketua Tanfidiziah.

B. Masa khidmat 2001-2002 dipimpin oleh Bapak Dr. H. Syuhada’ Sholeh, sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Hafidz Muhammad Amin, M.Ed. sebagai Ketua Tanfidziah. Pada periode kepengurusan ini, tepatnya pada tanggal 23 Januari 2002, Ketua Umum PBNU, Bapak KH. Hasyim Muzadi dan beberapa pengurus PBNU berkesempatan mengunjungi Sudan sekaligus meresmikan berdirinya PCI NU Sudan, dengan disaksikan oleh Katib ‘Am PBNU, Bapak Prof.Dr. KH.Said Agil Husein al-Munawwar, yang juga menjabat sebagai Menteri Agama RI.

C. Masa khidmat 2002-2003 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Shofwan, MA. sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Lathoif Ghazali, MA. sebagai Ketua Tanfidziah.

para pendiri pcinu sudan :

founders

Kedua : Periode Tathawwur

Yaitu dua periode kepengurusan terakhir saat ini sebagai periode pengembangan organisasi di berbagai bidang terutama hubungan antar lembaga internasional baik secara formal maupun non formal, sekaligus pengenalan visi dan misi PCI NU. Periode ini dimulai pada :

A. Masa khidmat 2003-2004 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Badrus Salam Shof, S.Tg sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Muhammad Afifullah Rifa’i sebagai Ketua Tanfidziah. Kepengurusan periode ini mulai mengembangkan perannya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan dibawah program “Go International”. Beberapa hal yang dicapai dari program tersebut, antara lain:

1. Menjalin hubungan dengan Dewan Zakat Sudan. Dalam hal ini PCI NU Sudan diberi fasilitas untuk melakukan study secara kongkrit baik dalam bidang manajemen, administrasi maupun hal-hal lain yang menyangkut operasional pengelolaan lembaga tersebut.

2. Menjalin hubungan dengan Al-Majlis Al-Qowmiy Li Ad-Dzikr wa Ad-Dzakirin. Program ini berhasil mengantarkan PCI-NU sebagai Jam’iyah yang telah diakui eksistensinya oleh Al-Majlis Al-Qowmiy Li Ad-Dzikr wa Ad-Dzakirin (Lembaga Departemen Pemerintah Sudan yang menangani dan mengakomodir semua Thoriqoh Sufi di Sudan), dan hubungan silaturahmi ini telah dimuat dalam majalah AL-FAYDH, yaitu majalah bulanan berorientasi tasawwuf yang disebar ke beberapa negara Arab.

3. Menjalin hubungan dengan Bank Tadamon Sudan. Dalam hal ini PCI NU telah mendapat sambutan baik untuk melakukan study secara langsung tentang Perbankan Islam di Sudan. Namun hubungan ini masih dirasa perlu untuk dikembangkan lagi secara intensif guna mencapai hasil yang optimal.

4. Terjalinnya hubungan dengan pihak siaran radio resmi pemerintah Sudan. Dalam hal ini Pihak PCI NU berkesempatan untuk memperkenalkan visi dan misinya sekaligus menampilkan kesenian “rebana” dari tim JSQ (Jama’ah Syifaul Qulub) melalui siaran radio pemerintah Sudan.

5. Menjalin hubungan silaturrahim dengan tokoh-tokoh terkemuka Sudan untuk berdiskusi dan bertukar wawasan serta wacana pemikiran. Di antaranya ialah Syekh Abdullah, Syekh Ahmad Ar Rayyah Syeh Abd. Baqi tokoh kharismatik Pimpinan Thoriqoh Qodiriyah Al-‘Irakiyah Sudan, Dr. Syekh Fatih Qariballah, tokoh kharismatik Pimpinan Thoriqoh Sammaniyah Sudan sekaligus mantan Rektor Universitas Omdurman Khartoum Sudan.

mbah KH. Badrussalam :

B. Masa khidmat 2004-2005 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Badrus Salam Shof, S.Tg sebagai Rois Syuriah untuk kedua kalinya dan Bapak H. Muhammad Iqbal Luthfi, Bs. Sebagai Ketua Tanfidziah hasil dari Konferensi PCI-NU pada tanggal 25 Juni 2004 M, yang digelar di ruang serba guna KBRI Khartoum Sudan. Pada periode ini, PCI NU disamping masih menjaga hubungan dengan lembaga-lembaga di atas, juga berupaya mengembangkan jalinan hubungan dengan pihak lain yang sesuai dengan misi dan visi PCI NU sendiri. Beberapa program yang telah dicapai pada priode ini adalah sebagaimana berikut :

1. Terjalinnya hubungan dengan Lembaga Persahabatan Indonesia-Sudan yang diketuai oleh Prof. Dr. Syakir as-Sarraj. Dalam hal ini PCI NU telah dipercaya untuk menjalankan 2 proyek penting, yaitu:

a. Pengajaran bahasa Indonesia kepada penduduk Sudan.

b. Penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Arab, dari karya Syekh Syurkati

(Muballigh Sudan sekaligus tokoh pendiri Jam’iyah Al-Irsyad di Indonesia).

2. Menjalin hubungan silaturrahim dengan Dr. Al-Fatih Ali Hasanain, seorang tokoh Sufi yang masih produktif dalam menulis sekaligus mantan aktifis Persatuan Pelajar Islam di Eropa Timur. Dalam hubungan ini PCI NU diberikan fasilitas tempat untuk belajar dan berdiskusi bersama tokoh-tokoh Sudan yang lain di kediaman beliau serta mengadakan acara “Sholawat Nabi” setiap malam Jum’at dengan menampilkan kesenian “rebana” ala Indonesia secara bergantian dengan kesenian “rebana” khas Sudan.

3. Menjalin hubungan silaturrahim dengan Dr. Hamd Umar Hawy, pakar politik sekaligus dekan fakultas ilmu politik Universitas Juba Khartoum Sudan. Dan buku karya beliau yang berjudul : “Corak Negara Islam, Antara Sekuler dan Teokrasi” terbitan tahun 2004 M, masih dalam proses penerjemahan dibawah program Lajnah Ta’lif wa Nasyr PCI NU Sudan.

4. Merintis peluang program beasiswa bagi para pelajar Indonesia yang berminat meneruskan belajar dengan sistem non formal dibeberapa pondok pesantren (Kholwah) di Sudan.

5. Mengusulkan kepada pihak Al-Majlis Al-Qowmiy Li Ad-Dzikr wa Ad-Dzakirin bekerja sama dengan pihak PBNU untuk menyelenggarakan event akbar berupa Muktamar Thariqoh Internasional. Usulan ini mendapat sambutan baik dan diharapkan agar PCI NU nantinya siap untuk ikut berpartisipasi penuh dalam menyukseskan event tersebut.

C. Masa khidmat 2005-2006 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Afifullah Rifa’i, Lc sebagai Rois Syuriah dan Bapak H.Hilmi Assiddiqy Sebagai Ketua Tanfidziah hasil dari Konferensi PCI-NU pada tanggal 25 Juni 2005 M, yang digelar di gedung pusat kebudayaan Lybia Khartoum Suda.

D. Masa khidmat 2006-2007 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Afifullah, M. Ed. sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Muhammad Shohib Rifa’i, BS sebagai Ketua Tanfidziah.

Pada awal periode kepengurusan ini PCI NU Sudan berhasil merintis pengajian masyarakat Indonesia.

Pada periode ini pengurus juga dapat menjalin hubungan dengan pemerintah setempat, diantaranya dengan kementerian Waqaf dan Irsyad dan juga bisa mengusahakan beasiswa bagi warga NU di Universitas Al-Qur’an sebanyak 2 orang.

H. Muhammad Afifullah, M. Ed. dan H. Muhammad Shohib Rifa’i, BS :

picture11

E. Masa khidmat 2007-2008 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Amiruddin, BS sebagai Rois Syuriah dan Bapak Mirwan Akhmad Taufiq sebagai Ketua Tanfidziah.

Periode ini sudah berjalan satu tahun penuh sejak awal pelantikan pada tahun yang lalu. Dan pengurus berusaha untuk tetap bisa menjaga dan meneruskan hubungan-hubungan yang selama ini telah terjalin, juga melanjutkan program-program yang telah dirintis dan dimulai pada kepengurusan sebelumnya. Pada tanggal 26 Agustus 2007 pengurus mendapatkan kehormatan dari Kementrian Irsyad dan Wakaf untuk menghadiri acara sidang kedua Majlis A’la Da’wah Islam yang dihadiri oleh Presiden Sudan, Menteri Irsyad dan Wakaf, dan berbagai elemen, aliran serta golongan Islam yang ada di Sudan. Kemudian pada tanggal 23 September 2007 PCI NU Sudan mendapat pengakuan resmi dan terdaftar di bawah perlindungan Kementrian Irsyad dan Wakaf dengan no registrasi 120-756.23/09/2007.

Dan pada bulan 14 Februari 2008 PCI NU mendapatkan undangan kehormatan dari Kementrian Wakaf Sudan untuk ikut serta dan aktif dalam acara “Simposioum Menghadapi Problematika Dakwah Islam di Sudan”, yang diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Islam Sudan. Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Bapak KH. DR. Ahmad hasyim Muzady Ketua Umum Tanfidziyyah PBNU Jakarta sebagai tokoh kehormatan yang diberi kesempatan untuk menyampaikan kata sambutan di depan Presiden Republik Sudan pada pembukaan acara tersebut di Hotel As-Salam Rotana. Pada masa ini pula, pergerakan PCI NU Sudan yang dimotori oleh PBNU mulai mengembangkan sayapnya ke bidang perintisan kerjasama dalam “Ekonomic Field”. PCI NU Sudan yang selama ini hanya melakukan tugasnya sebagai organisasi sosial kemasyarakan dan dakwah, yang tentunya dunia kerja dan sasarannya masih berkisar pada bidang pendidikan, sosial, budaya dan dakwah sudah terjalin baik dengan pihak masyarakat dan pemerintah Sudan. Namun dengan kehadiran Bapak Ketua Umum Tanfidziyyah PBNU mengajak kepada segenap warga NU untuk mulai menganggap penting dunia ekonomi, khususnya di Sudan. Hal itu terkenal dengan semboyannya “ Dakwah Islam Tidak Akan Kuat Kecuali Dengan Ekonomi Kuat”. Maka pada periode ini, PCINU Khartoum Sudan mendapatkan bantuan sekretariat kegiatan selama dua tahun dari perusahaan Supreme Energy yang menjadi partner kerja PBNU perekonimian. Tentunya, dengan adanya sekretariat NU Sudan, kajian keilmuan dan dakwah dalam rangka meningkatkan SDM Nahdliyyin dapat dipusatkan kembali pada tempat tersebut, yang kemudian sering disebut Wisma Nahdliyyah. Maka, di wisma inilah seluruh gerak PCI-NU Sudan berpusat, dari kegiatan yang bersifat intern maupun menjalin hubungan secara ekstern dengan masyarakat Sudan, yang semua itu sudah menjadi ciri khas warga NU untuk selalu bersilaturahmi dengan pihak manapun.

H. Muhammad Amiruddin, BS. dan H. Mirwan Akhmad Taufiq, BS :

picture21

F. Masa Khidmat 2008-2009 dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Amiruddin, BS sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Abdul Wahab Naf’an,BA sebagai Ketua Tanfidziah.

Periode ini baru berjalan beberapa bulan, sehingga belum banyak hal yang bisa dicapai. Meskipun begitu pengurus berusaha untuk tetap bisa menjaga dan meneruskan hubungan-hubungan yang selama ini telah terjalin, juga melanjutkan program-program yang telah dirintis dan dimulai pada kepengurusan sebelumnya. Pada periode ini pengurus telah menjalin hubungan dengan pemerintah setempat,bahkan Menambah Mustasyar yaitu Presdir Munadzomah Wafidin Sudan yang telah membuka peluang baru bagi beasiswa S2 serta tiket gratis bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya. Serta Mengadakan Kunjungan dan Audiensi ke semua Lapisan Masyarakat diantaranya Kementrian Wakaf Sudan, staf-staf KBRI termasuk Bapak Duta Besar, PERTAMINA yang ada di Sudan serta Bapak-bapak tenaga kerja professional.

H. Muhammad Amiruddin, BS. dan H. Abdul Wahab Naf’an,BA :

picture22

mars pcinu sudan, karya Bpk. Abd. Alim Ad-durry :

[splashcast TNQY7845QX]

NAHDLATUL ULAMA

nu-logo1.jpg

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 13 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.
1 Sejarah NU
2 Paham Keagamaan
3 Basis Pendukung
4 Tujuan dan Usaha Organisasi
4.1 Tujuan Organisasi
4.2 Usaha Organisasi
5 Struktur Organisasi
6 Jaringan Organisasi

Sejarah NU

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional”. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.

Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri” (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bidah. Gagasan kaum Wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan maupun PSII di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan walk out.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga.

Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (13 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Paham Keagamaan

NU menganut paham Ahlussunah waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1985, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Basis Pendukung

Jumlah warga NU yang merupakan basis pendukungnya diperkirakan mencapai lebih dari 80 juta orang , yang mayoritas di pulau jawa, kalimantan, sulawesi dan sumatra dengan beragam profesi, yang sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran ahlususunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.

Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basisi intelektual dalam Nu juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini.

Tujuan dan Usaha Organisasi


Tujuan Organisasi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha Organisasi
Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.
Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.
Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Struktur Organisasi
Pengurus Besar (tingkat Pusat)
Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)
Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota)
Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan)
Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan)

Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:
Mustayar (Penasihat)
Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:
Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
Tanfidziyah (Pelaksana harian)

Jaringan Organisasi

Hingga akhir tahun 2000, jaringan organisasi NU meliputi:
31 Wilayah
339 Cabang
12 Cabang Istimewa
2.630 Majelis Wakil Cabang / MWC
37.125 Ranting

Situs Resmi Nahdlatul Ulama : http:// www.nu.or.id

sumber : WIKIPEDIA

Mars NU :

[splashcast LBQR4971II]

One response

12 03 2009
amasuda

Salam, kawan-kawan pengurus PCINU

Saya sedang mencari nama dan nomor telefon mahasiswa Indonesia, termasuk Bung Muhammad Sohib, dan/atau warga Indonesia dan pejabat KBRI untuk keperluan wawancara tentang situasi di Sudan. Saya akan sangat berterimakasih kalau bisa dibantu.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: