NU Sudan Memeriahkan Hari Bersatunya Yaman

24 05 2009

NU Sudan Memeriahkan Hari Bersatunya Yaman

Khartoum, NU Online

NU Sudan dengan Jam’iyah Syifa’ul Qulub (JSQ) diundang untuk memeriahkan hari bersatunya Negara Yaman ke 19 di Khartoum Sudan pada hari Sabtu, (22/5). Acara tersebut dihadiri oleh beberapa pejabat Timur Tengah, diantaranya kerajaan Saudi Arabia, Qatar, Oman, Mesir, dan negara-negara sahabat lainnya.

Lantunan syair yang menceritakan tentang arab Yaman yang di Sudan, membuka acara tersebut setalah pembacaan al Qur’an oleh Tholib Yaman. Acara disambung dengan sambutan Duta besar yaman yang mengutarakan tentang hubungan darah yang erat antara Arab Yaman dan Arab Sudan.

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Sudan menyumbangkan 2 buah lagu nasyid khas Yaman untuk memeriahkan acara “Bersatunya Yaman ke 19”, disusul dengan penampilan komunitas arab yaman yang di sudan, dengan sebuah lantunan nasyid asli Yaman dari daerah Kassala (asal usul mereka).

“Mereka mengetahui JSQ NU Sudan karena salah seorang pejabat Yaman menghadiri ketika acara ‘Dukungan Palestina untuk Basyir’.” Kata Abdussalam Oyosukarya, kordinatir LDNU Sudan.

Dia juga menambahkan bahwa JSQ ini bisa dikembangkan; yang dulunya hanya dikenal masyarakat Indonesia, kini saatnya untuk dipromosikan ke dunia international. Dan terbukti, dalam satu bulan ini sudah beberapa kali JSQ NU Sudan, diundang untuk memeriahkan berbagai even international.

Dikatakannya, dalam waktu dekat ini Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Sudan akan mengadakan Istighosah Kubro bayna ri’ayatul Indonesia wa ti’ayatus Sudan. (mad)





8 05 2009

Tentang Konsep Rujhan Usulan Kerangka Berpikir untuk NU

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Setiap masyarakat selalu mengandaikan sebuah “doxa”, yaitu semacam kebenaran tersembunyi yang jarang dikatakan tetapi disepakati oleh semua anggota dalam masyarakat bersangkutan. Tegaknya sebuah orde sosial di manapun biasanya selalu mengandaikan adanya doxa semacam itu.

Tulisan pendek ini merupakan usulan saya untuk mencari rumusan yang relatif ideal yang dapat dipakai untuk menampung keragaman pemikiran dalam tubuh NU saat ini. Karena sumber bacaan generasi baru NU makin berkembang dan berasal dari tradisi yang berbeda-beda, keragaman ini di masa-masa mendatang bukan kian berkurang tetapi akan makin mengalami pendalaman dan perluasan.

Kalau NU tidak mengembangkan kerangka yang tepat untuk menanggapi perkembangan semacam ini, maka akan timbul polarisasi yang membahayakan organisasi itu di masa-masa mendatang. Perspektif yang dipakai oleh Kiai Hasyim Muzadi sejauh ini, menurut saya, sama sekali kurang tepat. Menuduh bahwa pemikiran liberal tidak sesuai dengan kerangka berpikir NU bukanlah cara yang baik untuk menangani fenomena pemikiran.

Kerangka lain yang saya usulkan ini bersumber dari tradisi fikih yang selama ini menjadi “kekayaan intelektual” dalam NU sendiri. Dalam fikih, kita kenal tiga istilah yang dengan modifikasi tertentu, bisa kita pakai sebagai pendekatan alternatif—yaitu rajih, arjah, dan marjuh.

Ketiga istilah itu berasal dari konsep yang dikenal dalam usul fikih sebagai “rujhan”. Dalam usul fikih, kita kenal pula istilah yang luas dipakai oleh para fukaha, yaitu “rujhan al-dalil”, keunggulan sebuah dalil. Dalam tradisi ushul fikih sendiri, istilah “rujhan” didefinisikan sebagai “al-dhann al-mustafad min dalilin aqwa min ghairihi”. Yakni: suatu tesis yang didasarkan pada dalil tertentu yang lebih kuat tinimbang dalil yang lain (baca “Mu’jam Mustalahat Usul al-Fiqh” karangan Qutb Mustafa Sanu, 2002, hal. 216).

Kata kunci dalam konsep tentang rujhan ini adalah dua, yaitu al-dhann yang bisa kita terjemahkan dalam pengertian modern sekarang sebagai tesis atau hipotesis, dan “al-dalil”, atau bukti penguat sebuah tesis/hipotesis. Suatu kondisi “rujhan” terjadi saat sebuah tesis didukung oleh dalil atau bukti yang lebih kuat ketimbang tesis lain yang tidak didukung oleh tesis serupa.

Sutau tesis yang didukung oleh bukti atau dalil yang paling kuat disebut dengan tesis “arjah”, yakni tesis yang paling kokoh karena dalilnya sangat kuat. Di bawah itu adalah tesis yang “rajih”, yaitu tesis yang disokong oleh sebuah dalil yang kuat, meskipun tidak sekuat yang pertama. Sementara tesis yang didukung oleh bukti yang lemah disebut sebagai tesis yang “marjuh”.

Konsep rujhan ini dipakai oleh para sarjana fikih klasik sebagai strategi untuk menampung keragaman dalam sebuah mazhab. Dengan konsep semacam ini, ruang pemikiran dalam fikih diperluas. Keadaannya akan menjadi lain jika konsep yang dipakai berbeda, misalnya haqq dan batil, dua konsep yang sering saya jumpai dan dipakai oleh kalangan Islam radikal di Indonesia saat ini. Dengan pendekatan yang cenderung dualistis seperti itu, ruang perdebatan dipersempit, dan sikap yang muncul ke permukaan adalah absolutisme.

Meskipun belum sampai ke tingkat itu, perspektif yang dipakai oleh Kiai Hasyim Muzadi sejauh menyangkut liberalisasi pemikiran dalam NU lebih mendekati ke pola berpikir yang dualistis itu, atau, kalau mau memakai istilah yang agak sedikit “keren”, pola berpikir dengan kerangka oposisi biner.

Konsep rujhan sama sekali berbeda. Dalam kerangka semacam ini, dimungkinkan sebuah gradasi dan nuansa yang lebih kaya, bukan hitam putih. Tesis yang “marjuh” bukan berarti langsung dikeluarkan sama sekali dari wilayah “kebenaran”. Apa yang disebut kebenaran mencakup tiga hal itu sekaligus, yaitu tesis yang arjah, rajih, dan marjuh.

Tentu kita semua tahu bahwa konsep rujhan ini adalah konsep fikih yang biasanya dipakai di luar apa yang disebut dengan wilayah “ma’lum min al-din bi al-darurah”, yaitu hal-hal yang secara aksiomatik sudah diterima sebagai “kebenaran yang tak terbantahkan” dalam agama. Istilah ini mungkin bisa disetarakan dengan konsep “doxa” sebagaimana dipahami oleh antropolog-filosof Perancis, Pierre Bourdieu. Setiap masyarakat selalu mengandaikan sebuah “doxa”, yaitu semacam kebenaran tersembunyi yang jarang dikatakan tetapi disepakati oleh semua anggota dalam masyarakat bersangkutan. Tegaknya sebuah orde sosial di manapun biasanya selalu mengandaikan adanya doxa semacam itu.

Apa yang disebut dengan “doxa” dalam sebuah masyarakat, entah masyarakat agama atau non-agama, selalu terbatas. Wilayah non-doxa biasanya jauh lebih banyak, luas, dan terus berkembang. Pendekatan “rujhan” lebih tepat dipakai dalam konteks wilayah non-doxa ini. Karena rujhan bergerak pada wilayah non-doxa, maka watak rujhan memang relatif, sebab fondasi pokok konsep ini adalah “dhann” yang ingin saya terjemahkan sebagai “the approximation of truth”, atau penghampiran atas sebuah kebenaran. Hasil akhir dari rujhan bukanlah Kebenaran dengan “K” besar, tetapi hanyalah perspektif yang hendak mendekati kebenaran itu.

Kerangka inilah yang saya usulkan kepada teman-teman, entah di PBNU atau di luar PBNU, untuk melihat kergaman pemikiran dalam tubuh NU sekarang ini. Wilayah perdebatan yang menimbulkan keragaman pemikiran dalam NU sekarang ini, menurut saya, lebih banyak menyangkut wilayah non-doxa itu sendiri. Bahkan kasus Ahmadiyah yang seolah-olah di permukaan merupakan wilayah “doxa”, yaitu soal finalitas kenabian, jika ditelisik lebih dalam bukanlah murni “doxa”. Finalitas kenabian sendiri, saya sepakat, adalah wilayah “doxa”, tetapi bagaimana “doxa” ini ditafsirkan dan dimaknai, bukanlah bagian dari wilayah “doxa” itu.

Kerangka rujhan ini tidak dengan mudah menuduh bahwa pemikiran tertentu sudah keluar dari NU. Dengan kerangka ini, paling jauh kita hanya mengatakan bahwa pendapat tertentu adalah “marjuh” dalam kerangka ke-NU-an, atau rajih, atau arjah. Ke-NU-an tidak semata-mata dibentuk oleh hal-hal yang ‘arjah” atau “rajih” saja, tetapi juga mencakup hal yang “marjuh” pula.

Supaya tidak disalah pahami, saya ingin menambahkan catatan penting di akhir tulisan ini. Mungkin ada teman yang mengatakan bahwa kerangka yang saya usulkan ini elitis, terlalu “intelektual”, bahasanya abstrak, serta tak mudah dipahami oleh kalangan nahdliyyin awam.

Keberatan semacam ini bukan sekedar hal yang sifatnya “iftiradli” atau pengandaian saja. Keberatan semacam ini sering saya dengar di banyak kalangan, terutama dari kalangan terpelajar yang jelas merupakan bagian dari “kelas elit” dalam masyarakat NU. Memang di mana-mana saya melihat ada kecenderungan yang mengarah kepada semacam “populisme intelektual”. Elitisme dipandang sebagai hal yang jelek.

Tentu saja konsep yang saya ajukan ini bukan untuk dikemukakan kepada warga nahdliyyin biasa. Ini adalah kerangka konseptual yang dengan sengaja saya lempar ke kalangan elit intelektual NU. Di mana-mana selalu saja ada segolongan orang yang merasa bersalah menjadi bagian dari “elit” lalu mengingkari ke-elitan-nya dengan menonjolkan semacam “populisme intelektual”. Ini gejala yang lumrah di mana saja, dan karena itu tidak terlalu mengherankan saya.

Tetapi haruslah diingat bahwa apa yang disebut dengan doktrin Sunni yang menjadi anutan NU tidak bisa dilepaskan dari dasar-dasar intelektual yang sangat elitis. Kitab-kitab yang dikaji oleh santri di pesantren banyak sekali yang bersifat “elitis”. Warga NU di desa-desa tentu tak membutuhkan kitab semacam “Jam’ al-Jawami’” atau “Al-Ashbah wa al-Nadha’ir”, apalagi kitab yang sangat sangat “lebat” dan kadang susah ditembus dan dipahami seperti kitab ushul fikih karangan al-Razi, “al-Mahsul”. Dasar doktrin Sunni yang termuat dalam kitab-kitab seperti al-Irshad karangan al-Juwaini, atau Kitab al-Tamhid karangan al-Baqillani jelas tidak mudah dipahami oleh warga Sunni biasa. Tetapi bangunan doktrin Sunni tidak bisa dilepaskan dari fondasi yang elitis semacam itu.

Kerangka yang saya usulkan ini adalah pendekatan pada level konseptual untuk melihat keragaman pemikiran dalam NU. Ini adalah usulan untuk para elit NU agar mereka menghindari kerangka yang cenderung dualistis dan dikotomis seperti dipakai oleh Kiai Hasyim Muzadi.

Dalam kerangka yang saya usulkan ini, saya tidak keberatan jika ide-ide liberal yang dikemukakan oleh anak-anak muda NU dianggap “marjuh” dalam kerangka tradisi NU. Tetapi ia bukanlah di luar tradisi itu. Bagi saya, selain tradisi NU bukanlah hal yang statik, tradisi itu juga menyediakan ruang yang luas sehingga bisa menampung hal-hal yang “arjah”, “rajih”, dan bahkan “marjuh”.[]





Mahasiswa Jangan Hanya Berharap PNS

4 05 2009

Mahasiswa Jangan Hanya Berharap PNS

Padang, NU Online
Mahasiswa jangan hanya berharap untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang semakin ketat persaingannya. Mahasiswa juga harus mulai memiliki wawasan kewirausahaan

Demikian dalam Diskusi Panel Kewirausahaan Mahasiswa yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Padang, Ahad (3/5) kemarin di gedung serbaguna Bintang Sembilan, Padang.

Menurut dosen UPI Padang Drs H Donmarma SH MM, menumbuhkan jiwa kewirausahaan sudah bisa dimulai semasa mahasiswa. Banyak pengusaha yang sukses kini, juga mulai mengembangkan jiwa kewirausahaannya ketika mahasiswa.

“Seorang pemula biasanya terjebak dengan kesibukan yang menjauhkan dirinya untuk memulai kegiatan sebuah bisnis yang sebenarnya.  Kita selalu terjebak dengan mimpi-mimpi masa depan yang berkepanjangan tanpa melakukan riil bisnis,” kata Donmarma dalam diskusi itu.

Narasumber lainnya adalah praktisi Wirausaha Risbon Antoni S Pd. Diskusi dimoderatori Wakil Ketua Tanfidziyah PW NU Sumbar Ir  Khusnun Aziz MM, diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Padang dan Lubuak Alung, Padangpariaman.

Sementara itu, Risbon Antoni yang menyampaikan materi dengan tema Peluang Usaha Mahasiswa yang Murah, Mudah dan Praktis, menyebutkan yang penting dalam berwirausaha adalah menumbuhkan percaya diri, dan mau memulai usaha.

“Banyak peluang usaha yang ada disekitar kita yang selama ini tak tampak,” kata Risbon memberikan beberapa contoh. Dikatakannya, dengan sistem viral marketing, kini bisnis yang bisa dikembangkan berbasis HP, yakni Vnet Club.

“Selama ini kita hanya menggunakan hp untuk dibiayai pulsanya. Tapi kini dengan Vnet, selain membiayai pulsa, juga mendapatkan pulsa dan sejumlah uang sesuai dengan usaha yang dikembangkan,” kata Risbon.

Ketua Advokasi PMII Cabang Padang Alim Marwin menyebutkan, kegiatan dimaksudkan untuk pencerahan mahasiswa. Dengan bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Bintang Sembilan Sumbar.

“Diskusi Panel Kewirausahan Mahasiswa ini bertujuan untuk  memberikan wawasan kewirausahaan. Sehingga mahasiswa tersebut mulai melihat peluang usaha yang bisa dikembangkan,” kata Alim.





Mahasiswa NU Harus Visioner dan Berkarakter

4 05 2009

Mahasiswa NU Harus Visioner dan Berkarakter

Bogor, NU Online
Sebagai komunitas yang memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa, mahasiswa NU harus memiliki visi besar dan karakter dalam membangun masyarakat. Peran sebagai pelopor perubahan harus dimainkan dengan baik dan benar, agar apa yang menjadi idealisme perjuangan selalu tertambat dan tidak lekang oleh waktu.

Demikian ditegaskan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Surjono Hadi Sutjahjo MS saat tampil sebagai pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB di Pesantren Darul Muttaqien Parung Bogor, Ahad (3/5).

Diskusi tersebut digelar sebagai rangkaian Musyawarah I KMNU IPB. Sedangkan tema yang diangkat adalah “Menyemai tradisi, memperkuat kaderisasi untuk menjemput tantangan perubahan.”

Para pemateri lain yang dilibatkan, yakni Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Cecep Kusmana MS, Pengasuh Pesantren Darul Muttaqien KH Mad Rodja Sukarta, dan Kasubdit Pendidikan Dasar Menengah Depag H.Imam Syafi’i M Pd.

“Mahasiswa NU harus memahami dan menginternalisasi esensi dan visi perjuangan, agar menjadi calon pemimpin yang tangguh dan istiqomah,” kata Koordinator Mayor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB.

Surjono juga menyampaikan betapa pentingan keterbukaan sikap dan luasnya pergaulan sebagai bekal yang dibutuhkan menjadi pemimpin masa depan. “Mahasiswa harus mampu bergaul lintas komunitas. Jangan hanya besar dalam habitatnya saja,” ujarnya.

Prof Cecep Kusmana mengemukakan, mahasiswa NU perlu banyak belajar dari lingkungan untuk menempa karakter dan kecerdasan sosial. “Lingkungan kampus sebagai wahana yang sangat efektif untuk belajar, karena di kampus ada banyak warna aliran, ragam idiologi dan corak gerakan,” terangnya.

Nah, mahasiswa NU jangan hanyut dalam mainstream tersebut. Namun harus mampu memberikan warna sesuai dengan misi dan ajaran ahlusunnah waljamaah yang dianut NU.

KH Mad Rodja Sukarta menambahkan, mahasiswa harus tampil sebagai generasi unggulan dalam arti sesungguhnya. Karena itu, jangan mengenal istilah bercuti dalam berjuang. Jangan pernah berhenti berharap untuk melakukan perubahan dan perbaikan.

“Mahasiswa harus selalu terdepan dalam menjemput tantangan perubahan zaman. Karena itu harus punya visi yang jauh ke depan,” papar mantan aktivis PMII ini.

Sedangkan Imam Syafi’i menyerukan agar mahasiswa NU mempunya keberanian untuk mengambil inisiatif. “Dalam berjuang, kalau kita kurang mempunyai kebiasaan, setidaknya harus punya keberanian. Dengan begitu akan selalu berada di depan.”