MENENGOK SEJARAH

3 01 2009

Masruchin: Menengok Sejarah

 

Beberapa akhir tahun belakangan ini, orang-orang di seluruh dunia merayakan sebuah pesta yang masing-masing dari perayaan itu ada sejarahnya yang menyebabkan kenapa harus dirayakan. Kita sering bertemu dengan Natal yang jatuh pada 25 Desember, dan di susul dengan Tahun Baru Masehi yang pasti datang pada tiap awal tahun. Dari sela-sela keduanya sering kita temukan hari-hari yang cukup bersejarah, baik sebelum atau sesudah 2 hari yang pasti itu, yaitu Hari Raya Idul adha, Tahun Baru Hijriah bahkan pernah hampir berbarengan dengan Hari Raya Idul Fitri atau Ramadhan. Pada tahun 2008 ini di bulan Desember sebelum Natal ada Idul Adha dan di pertengahan Natal dan Tahun Baru Masehi datang Tahun Baru Hijriah. Bulan Hijriah tidak akan tiba pada musim yang sama dengan Tahun Masehi kecuali setelah 33 tahun, seperti Ramadhan yang tiba pada 1 Januari 1999 sama dengan Tahun Hijriahnya.

 

Natal, ini hanya dirayakan oleh orang Kristen saja sebagai hari besar mereka untuk penghormatan kepada Nabi Isa as, yang menurut kepercayaannya bahwa Nabi Isa as, telah di bunuh dan di salib oleh orang Yahudi Roma, akan tetapi semuanya di tentang oleh Allah dalam Firmannya :

”dan kerena ucapan mereka :”sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam,Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka……Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepad-Nya. Dan Allah adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. An-Nisa : 157, 158)

Ayat ini adalah sebagai bantahan terhadap anggapan orang-orang Yahudi, bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa as. Akan tetapi Allah telah menggantikannya dengan orang yang serupa dengan Nabi Isa as.

Dan jelas bagi orang muslim dilarang mengikuti perayaan Natal, meskipun kita percaya dengan adanya Nabi Isa as, sebagai Nabi utusan Allah. Sahabat Umar bin Khattab RA pernah berkata : “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka”. Kemudian dia berkata lagi : “Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka”.

 

Tahun Baru, dalam kehidupan masyarakat ada dua Tahun Baru yaitu : Tahun Baru Masehi yang dikenal oleh masyarakat seluruh dunia dan dijadikan kalendar umum mereka, dan Tahun Baru Hijriah yang secara khusus hanya terkenal dalam masyarakat dan dunia Islam. Awal tahun baru Masehi sering dirayakan oleh orang non Islam di negara-negara Barat, dan banyak orang bahkan hampir di seluruh dunia merayakannya, baik itu Negara Islam maupun bukan, sehingga tanpa mereka sadari atau tidak, sudah menjadi sebuah tradisi.

 
Jika kita lihat sejarah penetapan 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi, bermula pada abad 46 Sebelum Masehi (SM). Ketika itu Kaisar Julius Caesar membuat kalender Matahari, yang dinilai lebih cocok dari pada kalender-kalender lain yang pernah dibuat sebelumnya. Sebelum Caesar membuat kalender Matahari, pada abad 153 SM, Janus
Dewa Roma yang menetapkan awal tahun itu yang dengan dua wajahnya, Janus mampu melihat kejadian di masa lalu dan masa depan. Dialah yang menjadi simbol kuno resolusi (sebuah pencapaian) Tahun Baru. Bangsa Roma berharap dengan dimulainya tahun baru, kesalahan-kesalahan di masa lalu dapat dimaafkan, sebagai simbol penebus dosa, yang ditandai dengan tukar kado (pada waktu itu).

Dan sekarang bermacam-macam acara diadakan untuk menyambut dan memeriahkan kedatangan tahun baru itu dengan pesta pada malam 1 Januari, pesta makan minum, diiringi dengan nyanyian, tarian dan lain-lainnya sambil menanti detik-detik jam 12 malam sebagai tanda pergantian tahun yang diiringi teriakan, sorakkan orang ramai atau kembang api. Dan masih banyak lagi simbol-simbol untuk merayakan tahun baru tersebut.

Dari situ bisa dikatakan bahwa tahun baru masehi awalnya merupakan suatu ritual Bangsa Yahudi Roma, dan bahkan dianggap sebagai penebus dosa.

Setelah melihat sejarahnya, marilah kita lihat dalil-dalil dari al-Qur’an, Hadits dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk mengikuti orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka.

Allah berfirman : “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur”.(Q.S. Al-Furqan : 72)

Sebagian ulama seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “Az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.

Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik RA, dia berkata, Saat Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini?”. Mereka menjawab :”Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah”. Lantas beliau bersabda :“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya yaitu Idul Adha dan Idul Fitri”.

Namun sangat disayangkan masih banyak di antara kaum muslimin yang meniru perayaan mereka. Bahkan ada yang ikut serta merayakan hari raya mereka. Di antaranya ada yang memberikan ucapan selamat atau ikut meramaikannya dengan berbagai acara seperti meniup terompet pada malam tahun baru dan yang semisalnya. Serta memasang hiasan-hiasan di rumahnya pada saat perayaan mereka.


Tahun Baru Hijriah, kata-kata Hijriah dipakai oleh orang Islam sebagai calendar untuk menentukan hari kebesaran Islam. Kalendar ini merupakan kalendar yang berasaskan bulan sebagaiman Masehi, dan mempunyai kira-kira 354 hari setahun. Kalendar Tahun Hijriah adalah hasil dari ilham sahabat Umar Al-Khatab RA. Kalendar ini juga mengambil peristiwa hijrah Rasullullah s.a.w dari Makkah ke Madinah. kerana dengan hijrah inilah permulaan pertolongan Allah kepada Rasul-Nya dan agama Islam ditegakkan yang menghasilkan kesatuan Arab lebih sistematik dan tersusun serta mendapatkan berbagai kejayaan besar yang kemudian dikuatkan dengan hasil dari sahabat Umar bin Khattab tersebut.


Dalam sejarah juga dikatakan bahwa Gubernur Abu Musa Al-As’ari telah mengirimkan surat kepada Sahabat Umar bin Khattab r.a untuk meminta penjelasan tentang tahun bagi surat Umar yang telah diantar kepadanya. Yang kemudian Sahabat Umar bin Khattab menetapkan satu kalendar Islam sebagai patokan kalendar yang digunakan oleh bangsa-bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain pada zaman itu yang berdasarkan falak syar’ie. Hasil dari peristiwa tersebut mulailah ditetapkan 1 Muharam untuk tahun Hijriah yang bersamaan dengan 16 Juli 622 Masehi.


Sebelum muncul kalendar Islam, bangsa Arab sendiripun mempunyai kalendar yang digunakannya seperti Kalendar Tahun Gajah, Kalendar Persia, Kalendar Romawi dan kalendar-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliah. Maka Umar telah memilih tahun yang terdapat di dalamnya peristiwa paling agung dalam sejarah Rasullullah s.a.w untuk dijadikan dasar permulaan tahun pertama bagi kalendar Islam yaitu bulan Muharam, kerana kemuliaan yang ada pada bulan ini di sisi orang Islam lebih-lebih lagi di sisi Allah.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah R.a katanya: bersabda Rasul s.a.w: “paling mulia puasa setelah Ramadhan adalah bulan Muharram dan paling afdol sholat setelah sholat fardhu adalah qiamullail”. Hadits ini menunjukan kepada kita agar berpuasa di bulan Muharam, yang mana pada waktu itu Nabi melihat penduduk Madinah berpuasa pada tanggal 10 Muharam, padahal hari tersebut adalah hari kebesaran kaum Yahudi, maka Rosul memerintahkan untuk berpuasa 1 hari sebelumnya agar tidak menyerupai dengan kaum Yahudi, berdasarkan hadits dari Ibn Abbas r.a katanya : “Rasulullah berpuasa pada hari Asyura dan menyeru agar berpuasa pada hari itu. Lalu para sahabat berkata : “wahai Rasulullah! Sesungguhnya hari itu adalah hari kebesaran Yahudi dan Nasrani”. Lalu Rasulullah bersabda : “apabila tahun depan diizinkan Allah, kita akan berpuasa pada hari ke Sembilan”. Berkata Ibn Abbas : “belum sempat tahun tiba,Nabi telah meninggal Dunia”. (Riwayat Muslim). Anjuran tersebut mempunyai arti dibelakangnya sebagai larangan jika kita hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharam saja, karena menyerupai dengan kaum Yahudi. Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia adalah termasuk di antara mereka. (Riwayat Abu Daud).

 

Dalam bulan Muharam ini juga ada sebuah larangan sebagaimana Firman Allah : “mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Muharam. Katakanlah :”berperang pada bulan itu adalah dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah…” (Q.S. Al-Baqarah : 217), pada waktu itu ada persengketaan antara kaum Qurayis dengan kaum muslimin, kemudian Nabi mengutus sahabat Abdullah bin Jashy Al Asadi sehingga terbunuhya seorang bangsa Quraisy Amru ibn Hadrami. Dari situlah Allah melarang peperangan pada bulan Muharam.

 

Dari keterangan di atas, ada sebuah pesan didalamnya. Sebuah larangan untuk tidak menyerupai atau meniru bahkan mengikuti orang-orang non muslim -sebagaimana hadits di atas- meskipun tidak terkait dengan relegius secara khusus. Namun sebagian kalangan memberikan batasan pada hal-hal yang memang terkait dengan agama saja yang diharamkan, sedangkan pada hal-hal lain yang tidak terkait dengan ritual agama, maka tidak ada larangan. Misalnya dalam perayaan tahun baru, hal ini tidak terkait dengan ritual agama, karena orang-orang merayakannya bukan di dalam rumah ibadah, juga bukan perayaan agama.

 

Jika kita lihat dari segi sejarahnya, maka tahun Baru Masehi hanya mengikuti budaya Yahudi Roma yang menurut mereka sebagai penebusan dosa. Berbeda dengan sejarah Tahun Baru Hijriah, yang memberi pelajaran dari aspek social dimana hubungan penduduk Madinah dengan kamu Muhajirin sehingga terbentuklah piagam Madinah, sehingga tidak ada lagi permusuhan baik sesame muslin atau non muslim. (jika kita tiba di Madinah, akan merasakan kenyamanan dan ketenteraman penduduknya, berbeda dengan di Makkah). Dari persatuan atau ukhuwah yang terjalin, terciptalah struktur Ekonomi yang biasa disebut dengan hubungan secara material berkembang baik. Yaitu dengan menghilangkan trasidi Riba, Korupsi dan perbuatan yang merugikan orang lain serta menguntungkan pribadi, sehingga terciptalah ekonomi Islam yang menjamin kestabilan dan keadilan. Dari situlah terlihat perubahan pada kaum Ansor dan Muhajirin yang merupakan suatu hidayah bagi keimanan mereka yaitu pencerahan dari zaman Jahiliyah kepada masa yang gemilang bagi umatnya (Muhammad SAW).

 

Akan tetapi tidak hanya sedikit orang Islam yang ikut merayakan Tahun Baru Masehi dengan bentuk yang kurang bermanfaat seperti pesta-pesta yang terkadang menyebabkan kekacauan dan kemaksiatan, dan melupakan Tahun Baru Hijriah yang sangat besar perjuangannya, yaitu perjuangan Nabi dalam Hijrahnya dari Makkah ke Madinah.

 
kita sebagai umat Islam yang bukan orang Barat, perlu rasanya kita mengevaluasi dan berkaca diri terhadap perayaan malam tahun baru Masehi yang tidak ada tuntunannya dari Qur’an dan Sunnah Nabi, yang juga tidak ada keuntungannya secara moril maupun materil untuk merayakannya. Bahkan yang ada adalah pemborosan atau menghambur-hamburkan harta untuk merayakannya dengan pesta, sehingga menjadi sebuah tradisi yang tidak ada tuntunannya atau sekedar ikut-ikutan bangsa Timur yang sedang mengalami degradasi pengaruh pola hidup Barat yang disebut pola hidup Western.

 
Dengan pertimbangan di atas, sebaiknya sebagai muslim kita tidak perlu mentradisikan acara apapun, meski tahajud atau mabit atau sejenisnya secara massal di tahun baru Masehi. Jika ingin mengadakan, sebaiknya hindari untuk dilakukan pada malam tahun baru, agar tidak terkesan sebagai bagian dari perayaan, meski belum tentu menjadi haram hukumnya.

 

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: