Berbekal Hidup Dengan Membaca al-Qur’an

27 05 2011

Pengajian Riyadul Muhibbin pada hari Jum’at ini 27-05-2011 diisi oleh H. Miftahuddin Ahimy dengan judul tersebut diatas . direncanakan pengajian WNI ini akan dilaksanakan bertempatkan dikediaman bapak Herliyan ade, berikut makalah yang akan disampaikan oleh Penceramah.

Pengertian al-Qur’an

Secara etimologi “Qur’an adalah kata asal dari “qoro’a-yaqro’u-qur’an” yang mempunyai arti himpunan/kumpulan huruf-huruf dan kalimat-kalimat sehingga menjadi sebuah bacaan yang tersusun. Firman Alloh SWT :

إنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وقَرُآنَهُ, فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Artinya : “Sesungguhnya tanggung jawab kami untuk mengumpulkannya (al-Quran) di dadamu dan membacakannya untukmu, maka jika kami bacakan Quran itu ikutilah bacaanya”.[2]

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Artinya : “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”[3]

Adapun definisi secara terminologi, banyak ulama yang menguraikannya, namun penulis bawakan salah satunya adalah : Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang pembacaannya merupakan ibadah.[4]

Keistimewaan al-Qur’an

Banyak sekali keistimewaan al-Quran, hal ini diakui bukan saja oleh orang muslim, namun orang non muslim pun mengakuinya, kita tampilkan disini beberapa saja :

  1. Sumbernya dari Alloh SWT.

Sebagaimana kita kemukakan, bahwa al-Qur’an adalah Firman Alloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW maka Makna dan Lafadznya adalah murni dari Alloh semata, hal ini sering dinyatakan Quran  pada ayat-ayatnya.  Pada permulaan surat Hud dinyatakan “Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian diperincikan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu”. Begitu pula dalam Surat as-Syu’ara “Dan sesungguhnya al-Quran itu benar-benar kitab yang diturunkan tuhan pemelihara alam semesta”[5]. Malaikat hanya Jibril sebatas membawa dan menyampaikannya kepada Nabi dan Nabi menghapalkan lalu menyampaikannya pada ummatnya.

  1. Mu’jizat.

Mu’jizat berarti sesuatu melemahkan, yaitu dengan mengumumkan tantangan untuk mendatangkan suatu hal yangsama atau dengan mendatangkan hal yang lebih kuat lagi dari yang ada. Sebagai mana tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular dan menelan Semua ular-ular Tukang sihir Fir’aun.  Setiap Nabi dan Rosul diberikan mukjizat, hal itu bertujuan untuk menanamkan keyakinan dan bukti pada kaumnya akan kebenaran ajaran yang dibawanya, maka kita katakana disini al-Quran adalah mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Alloh firmankan “Dan jika kalian ragu tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal al-Quran dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”[6]. Tantangan yang diumumkan al-Quran terdiri dari beberapa pilihan, yaitu untuk membuat satu kitab yang sama atau 10 surat yang sama atau 1 surat yang sama atau kalimat yang sama.

  1. Terjaga keotentikannya.

Tidak seperti Taurat dan Injil yang Alloh jaga hanya pada zaman nabinya yang bersangkutan saja, al-Quran dijaga sepanjang masa dan keadaan, tidak tertambah satu ayat atau kalimat padanya. Sebagaimana firman Alloh “ Sesungguhnya Kamilah yang turunkan al-Qur’an dan Kami juga yang menjaganya”[7]

Membaca al-Quran

Sebagian kelompok mengatakan bahwa al-Qur’an bukan untuk dibaca, namun untuk dikaji dan dipraktekkan dalam kehidupan, kita katakan disini bahwa al-Qur’an untuk dipraktekkan dan dikaji maknanya, namun pembacaannya juga tidak kalah pentingnya dan mempunyai pahala serta kedudukan yang tinggi, hal ini ditandai dengan banyaknya ayat serta hadis yang menganjurkan serta menerangkan fadhilah membaca al-Quran. Hal itu terjadi baik bagi orang yang membaca dan faham apa yang dibacanya ataupun orang yang membaca tapi tidak faham bacaannya.

Di dalam sejarah manusia, belum pernah ditemukan sebuah kitab yang dibaca, dihapalkan dan ditulis baik oleh orang yang mengerti atau yang tidak mengerti kecuali al-Quran, bahkan kadang-kadang orang yang tidak mengerti Bahasa Arab bacaannya lebih bagus daripada orang yang mengerti Bahasa Arab. Ini adalah bukti kebenaran al-Qur’an.

Alloh firmankan : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.[8]

Marilah kita perhatikan Hadis-Hadis berikut :

  1. Dari Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda “Orang yang pandai membaca al-Quran itu bersama malaikat-malaikat mulia dan penuh kebaikan, dan orang yang membaca al-Quran terbata-bata serta mengalami kesulitan padanya, maka baginya dua pahala”[9].
  2. Dari Abu Umamah, dari Nabi SAW “Bacalah Al Qur’an karena di hari kiamat ia datang memberi syafaat pada orang yang membacanya”[10]
  3. Dari Ibnu Mas’ud Nabi SAW bersabda “Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Quran maka ia mendapatkan satu kebajikan, dan kebajikan itu dilipatgandakan menjadi 10 pahala, aku tidak katakana “Aliif Laam Miim” itu satu huruf, tetapi tiga yaitu alif satu huruf, lam satu huruf dan miim satu huruf”[11]
  4. Dari Abu Musa al-Asy’ari bahsa Nabi SAW bersabda “Orang mukmin yang membaca al-Quran itu seperti Buah Utrujjah[12], bau dan rasanya enak dan orang mukmin yang tidak membaca al-Quran itu seperti buah Kurma, tidak mempunyai keharuman namun manis rasanya, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Quran seperti bunga, Harum baunya pahit rasanya. Dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-Quran seperti Buah Pare, Tidak mempunyai bau dan pahit rasanya”[13]
  5. Dari Abu Umamah bahwa Nabi bersabda “Tidak dibenarkan iri hati kecuali kepada dua orang; seorang lelaki yang dikaruniai Allah hapalan al-Qur’an maka ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan seorang lelaki yang diberi Allah harta lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang”.[14]

Membaca al-Qur’an dengan Tartil dan Suara yang Bagus.

Tartil adalah membaca dengan berhati-hati dan tidak terburu-buru, memperjelas bunyi huruf dan menjaga panjang pendek harokat [15]. Nabi SAW membaca al-Quran dengan tartil, hal ini sesuai dengan Firman Alloh “Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”[16]. Dan dari Ummu Salamah RA “Beliau menjelaskan bagaimana Nabi SAW membaca al-Quran, yaitu dengan membacanya secara diperjelas huruf demi huruf”[17].

Disunnahkan juga untuk membaca al-Quran dengan suara yang bagus dan merdu, karena keindahan al-Quran akan bertambah dengan suara yang bagus pula. Nabi bersabda “Hiasilah al-Quran dengan suara-suara kalian”[18].

Adab Membaca Al Qur’an

  1. Dalam keadaan Suci.
  2. Di tempat yang bersih, yang paling utama di Mesjid.
  3. Menghadap ke kiblat, khusuk dan tenang.
  4. Ketika membaca, mulut, pakaian dan tempat hendaknya bersih
  5. Membaca Ta ‘awwudz.
  6. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat tsb dan maksudnya.
  7. Janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain.
  8. Berdoa setelah membaca al-Quran.

[1]   Pengajian WNI Riyadul Muhibbin, Jum’at 27 Mei 2011 di kediaman Bapak Herlian, Khartoum Sudan.

[2]   Al-Qiyaamah 17.

[3]   Al-A’rof 204

[4]   Pembahasan-pembahasan Pokok Ilmu Quran, Manna’ul Qatthan hal 15.

[5]   As-Syu’ara 192.

[6]   Al-Baqoroh 23.

[7]   Al-Hijr 09.

[8]    Faathir 29-30.

[9]    Sahih Muslim no 798.

[10]  Sahih Muslim hadis ke 804.

[11]  Sunan Tirmidzi Hadis no 3912. Beliau berkomentar ini adalah hadis baik dan benar kualitasnya.

[12]  Nama Buah sejenis jeruk, manis rasanya dan harum baunya.

[13]  Sahih Bukhari hadist ke : 5247 dan Sahih Muslim hadis ke : 797.

[14]  Sahih Bukhari hadist ke : 5025 dan Sahih Muslim hadis ke : 815

[15]  Bagaimana berinteraksi dengan al-Quran?,Yusuf al-Qordhowi, hal 159.

[16] Al-Muzammil 04.

[17] Sunan Abu Dawud 1466. Sunan Tirmidzi 2924.

[18]   Musnad Imam Ahmad hadis ke 18494.





Pelantikan PCI NU Sudan

26 05 2011

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama menggelar acara pelantikan pengurus baru PCI NU masa khidmat 2011-2012, Rabu ( 25/5 ) Pukul 20.30 waktu Sudan yang berlangsung di Kantor sekretariat PCI NU Sudan.
Pelantikan PCI NU Sudan dilantik oleh DR. Muhammad Sulaiman Muhammad Ali Mustayar PCI NU dan Sekjen Majlis ‘ala lid dakwah Sudan yang di ikuti oleh pengurus jajaran syuriyah dan pengurus tanfidziyah, dan disaksikan langsung oleh Duta Besar RI Sudan, kemudian dilanjutkan pelantikan lembaga dan lajnah PCI NU Sudan yang di Pimpin oleh Rais Syuriyah PCI NU H. Muhammad Shohib Rifai.
Hadir pada acara pelantikan PCI NU, Duta Besar RI, Staf KBRI, Kalangan elit Sudan, masyarakat Indonesia yang berada di Sudan baik dari Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia, Ketua Kekeluargaan, Mahasiswa Indonesia, Pekerja pertamina, Mahasiswa dari Negara Somalia yang memadati ruang kantor PCI NU Sudan.
Dalam sambutannya, Duta Besar RI DR. Sujatmiko, MA memberikan selamat kepada pengurus baru masa khidmat 2011-2012 semoga bisa mengemban amanah dan menjalankan progam-progam PCI NU Sudan lebih maju dan lebih baik, beliau juga menginggatkan bahwa organisasi adalah sebagai wadah bagaimana kita memimpin orang, mengatur sirkulasi keuangan,dan harus membawa PCI NU berjalan sesuai dengan misi visi Nahdlatul Ulama yang bisa membawa kemaslahatan umat islam.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Rais Syuriyah PCI NU Sudan H. Muhammad Shohib Rifa’i, MA beliau mengajak kepada seluruh jajaran pengurus untuk tetap mengabdi menjalankan progam PCI NU, disamping tugas kita di Sudan adalah belajar, tanpa adannya NU pun kita wajib belajar, kalau bukan kita yang melanjutkan perjuangan Nahdlatul Ulama terus siapa lagi. Dan mengingatkan bahwa PCI NU bukan dibawah naungan Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia akan tetapi warga PCI NU adalah warga PPMI Sudan, Semoga pengurus PCI NU mampu mengemban amanah Nahdlatul Ulama dan selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan progam-progam kegiatan PCI NU Sudan, kita doakan juga muslimat PCI NU yang semakin lama semakin berkurang anggotanya semoga tetap eksis dan bisa menjalankan progam muslimat PCI NU.
Acara di akhiri dengan doa yang dipimpin oleh Katib Syuriyah PCI NU Sudan H. Auza’i Mahfudz Asirun, BS dan dilanjutkan dengan ramah tamah.





PCI NU akan Gelar Pelantikan Pengurus Periode 2011-2012

22 05 2011

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Sudan ( PCI NU ) akan menggelar Pelantikan Pengurus periode 2011-2012, yang akan berlangsung di Ruang Sekretariat PCI NU Sudan, Rabu ( 25/5 ) Malam.

Acara pelantikan menurut rencana akan dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Sudan dan Eritrea DR. Sujatmiko, MA, yang sebelumnya direncanakan akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU Prof. DR. Said aqil Siroj, tapi Beliau barhalangan hadir dikarenakan bertepatan dengan hari akad pernikahan putrinya.” Ujar ketua panitia pelantikan Ahmad Jalaluddin Majdy

Acara pelantikan juga akan di hadiri oleh Mustasyar PCI NU dari kalangan ulama Sudan, Bapak-bapak lokal staf & home staf KBRI, Ketua kekeluargaan, serta Anggota PCI NU dan Mahasiswa yang berada di Sudan, Ujar Sekertaris Panitia Pelantikan Slamet Riyadi.

Beberapa hari sebelumnya Pengurus PCI NU yang dipimpin oleh ketua tanfidziyah H. Lian Fuad telah melakukan konsolidasi antar pengurus guna memperkuat kesatuan antar pengurus dan membahas kegiatan yang diamanatkan pada konferensi ke 10 PCI NU di Gedung Haji dan Umroh Sudan.

“ Acara Pelantikan PCI NU diadakan di kantor PCI NU guna memperkenalkan sekretariat PCI NU Sudan, karena mengingat PCI NU Sudan sudah dikenal oleh masyarakat Sudan pada khususnya, dan berharap acara pelantikan ini berjalan dengan lancar “ Ujar Rais Syuriyah PCI NU KH. Muhammad Shohib Rifa,i.





Informasi Beasiswa S1 PCI NU Khartoum Sudan

9 05 2011

Dengan puji syukur kepada Allah SWT, PCI NU Khartoum Sudan di percaya  mengirimkan kader 15 terbaiknya untuk menuntut ilmu di negeri 2 nil. berikut kami memberitahukan persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Fasilitas Beasiswa

  • Beasiswa untuk 15 orang
  • Bebas biaya kuliah
  • Bebas asrama
  • Tiket pulang (bagi yang sudah menyelesaikan studi). Untuk tiket pemberangkatan menggunakan biaya sendiri.
  • Beasiswa untuk jurusan

o    Islamic studies

o    Syariah

o    Hukum (qonun)

o    Ilmu Biologi

o    Matematika

o    Sastra Arab & Pendidikan

o    Ekonomi, ilmu sosial, ilmu administrasi dan perdagangan.

  • Bagi yang lulus seleksi tapi lemah dalam bahasa arab, akan di masukkan ke program persiapan bahasa arab selama setahun.
  • Beasiswa PCI NU Khartoum Sudan untuk 3 universitas : Al Qur’anul Karim University, Omdurman University, Elnilein University.
  • Pendaftaran selambat-lambatnya tanggal 6 Juni 2011.

Persyaratan

1.     Beragama islam

2.     Mengisi formulir yang telah di sediakan dan mengirim scannya ke e-mail : nu_sudan@yahoo.com

3.     Ijazah keluaran tahun 2010 atau 2011

4.     Nilai ijazah tidak boleh dibawah 5

5.     Menyerahkan Ijazah Asli dan terjemahannya yang telah dilegalisir.

6.     Biaya administrasi :

a.     Uang pendaftaran 50 dolar

b.     menyerahkan uang sebesar 25 dolar untuk yang menyerahkan ijazah asli

c.      menyerahkan uang sebesar 75 dolar untuk yang menyerahkan ijazah scan

7.     Semua biaya administrasi tidak bisa di ambil lagi

8.     pendaftaran di buka terhitung dari sekarang dan selambat-lambatnya 6  juni 2011

9.     Bersedia menjadi anggota dan berkhidmah di PCI NU Sudan

10.            Tidak berpartai politik (PKS) selama menempuh pendidikan di Sudan

NB :

Untuk informasi lebih lanjutnya mohon menghubungi :

Kantor PCI NU Khartoum Sudan

Ma’mura block 69 Khartoum Sudan

Telp : +249155136309, +249925560324, +249903446860, +249905212292, +2499012669828

Email : nu_sudan@yahoo.com, alam_iua@yahoo.com atau kang_fuad@yahoo.co.id

Facebook : alam thea atau kang fuad





Haflatul Wada’ dan Tasyakuran Sidang Munaqosah

9 05 2011

Pada hari Minggu 08 Mei 2011, PCI NU Khartoum Sudan mengadakan Acara Perlepasan Sdri. Hj. Rovita Agustin Zulaiminah mantan Ketua Muslimat PCI NU Sudan yang akan Kembali ke tanah air Indonesia dan Tasyakuran Sdr. H. Mirwan Akhmad Taufiq A’wan PCI NU Sudan atas gelar Master yang baru diraih dengan predikat CUM LAUDE di Institut Internasional Liga Arab di Wisma PCI NU Sudan, Turut hadir dalam Acara Tersebut Bapak Muhammad Syafri perwakilan dari KBRI Sudan, Ibu-Ibu KBRI dan banyak dari Mahasiswa-Mahasiswi, Pada acara tersebut diawali dengan pembacaan Istighosah bersama atas tanda syukur kepada Allah SWT, Meminta keselamatan dalam perjalanan, diberikan ilmu yang manfaat dan mendoakan Negara Indonesia dan Sudan. Rois Syuriah PCI NU Sudan KH. Muhammad Sohib Rifa’i, MA dalam Sambutannya memberikan Ucapan terimakasih kepada Sdri Hj. Rovita yang sejak kedatanganya ke Sudan sangat memberikan warna-warni Organisasi Nahdlatul Ulama sehingga PCI NU Sudan sangat Maju dan berkembang dan berpesan supaya perjuangannya jangan hanya di sudan saja tapi dilanjutkan ketika sampai di Indonesia dan Ucapan Selamat kepada Sdr. Mirwan Semoga ilmunya berkah dan manfaat, Sambutan selanjutnya dari Perwakilan KBRI Khartoum Sudan Bapak Muhammad Syafri, KBRI sangat bangga ada warganya yang mendapatkan predikat Mumtaz serta membawa harum nama Indonesia, Harapan dan doa kami Semoga bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan kelak pulang ke tanah air bisa menyampaikan ilmunya kepada masyarakat Indonesia, acara di tutup dengan doa yang disampaikan oleh Katib Syuriyah KH. Auza’i Mahfudz.





Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

30 03 2011

Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Ketua umum  PBNU prof  dr KH Said Agil Siroj, dalam kata pengantarnya beliau di buku yang berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi karangan syeikh idahram beliau  mengungkapkan bahwa kemunculan Salafi Wahabi di abad ke-18 M meskipun tidak termasuk ke dalam golongan Khawarij, tetapi antara keduanya, ada beberapa kesamaan. Kelompok Wahabi, seperti hendak mengulangi sejarah kekejaman kaum Khawarij, yang muncul jauh sebelumnya pada tahun ke-37 Hijriah, tatkala melakukan pembongkaran tempat-tempat bersejarah Islam dengan dalih memerangi kemusyrikan. Tak cukup dengan tindakan itu, mereka bahkan tak segan untuk membantai terhadap sesama umat muslim sendiri, bahkan para ulama yang tidak sejalan dengan pemikiran (sempit) mereka.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok–kelompok ekstrim tersebut secara langsung telah mencoreng nama Islam. Islam adalah agama yang sempurna dan tidak mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77). Apa yang dipaparkan dalam buku ini, tentang sejarah tindakan ‘merusak’ yang dilakukan oleh kelompok Salafi Wahabi ini tidak boleh kita lupakan dan mesti kita waspadai.

Lantas siapakah sebenarnya kelompok Salafi Wahabi yang dimaksud dalam buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama ini? Penulis buku, Syaikh Idahram, menjelaskan bahwa nama wahabiyah ini dinisbatkan kepada Muhammad ibnu Abdul Wahab, yang lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Adapun kata Salafi, berasal dari kata as-salaf yang secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Adapun secara terminologis, as-salaf adalah generasi yang dimulai dari para sahabat, tabi’in dan tabi’at tabi’in. Mereka adalah generasi yang disebut Nabi Saw sebagai generasi terbaik.

Namun demikian, penggunaan istilah Salafi tersebut oleh sebagian kelompok Islam tertentu dijadikan propaganda. Mereka melakukan klaim dan mengaku sebagai satu-satunya kelompok salaf. Ironisnya, mereka kemudian menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang amalannya ‘tidak sesuai’ dengan paham yang mereka anut. Mereka menganggap sesat terhadap umat muslim lain, yang dianggap melakukan perbuatan bid’ah, semisal ziarah kubur mereka tuduh sebagai perbuatan syirik.

Lebih dari itu, sederet data dan fakta penyimpangan serta rentetan sejarah pembunuhan yang terpapar dalam buku ini, menyisakan sejumlah pertanyaan, apakah tindakan mereka tidak menyalahi ajaran Islam sebagai “rahmat bagi semesta alam”?

Kita pasti akan miris, ketika membaca tulisan tentang sejumlah tindakan kelompok Wahabi yang melakukan banyak pembantaian terhadap umat Islam serta ulamanya. Seperti yang mereka lakukan tatkala menyerang kota Thaif, Uyainah, Ahsaa, bahkan Makkah dan Madinah, juga tak luput dari sasaran keganasan mereka. Sayid Ja’far Al-Barzanji dalam salah satu bukunya menuturkan, ketika Wahabi menguasai Madinah, mereka merusak rumah Nabi saw, menghancurkan kubah para sahabat, dan setelah melakukan perusakan tersebut mereka meninggalkan Kota Madinah dalam keadaan sepi selama beberapa hari tanpa azan, iqamah, dan shalat.

Apabila ditelisik lebih dalam setidaknya ada dua faktor penyebab kemunculan kelompok seperti Wahabi. Pertama, pada dasarnya kemunculan mereka bermula dari sejarah pertarungan pengaruh dan kekuasaan (politik). Muhammad bin Abdul Wahab yang terusir dari kaumnya, kembali mendapat angin segar ketika bertemu dengan penguasa Dir’iyah, Muhammad ibnu Saud. Ajaran Wahabi akan terlindungi manakala bernaung dalam kekuatan penguasa, di sisi lain kekuasaan akan semakin menancapkan kukunya tatkala mendapat legitimasi ajaran agama. Jadi perjuangan Wahabi bersama ibnu Saud, bisa dikatakan tak lebih hanya pertarungan perebutan kekuasaan yang berkedok agama.

Faktor lain yang mendasari tindakan ekstrim mereka, diantaranya juga karena pemahaman mereka yang kaku dalam memahami teks-teks agama (tekstual), sehingga cenderung terjerumud dalam memahaminya. Misalnya, mereka sangat kaku dalam memahami perintah-perintah Rasulullah saw. Paradigma ini yang kemudian menyebabkan mereka dengan mudahnya menyalahkan dan mengkafirkan umat muslim lain.

Penulisan buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama ini adalah untuk menjelaskan semua itu secara ilmiah, dengan bukti yang kuat baik secara aqli dan naqli. Buku ini menyingkap hal-hal penting dibalik wabah takfir (pengkafiran), tasyrik (pemusyrikan), tabdi’ (pembid’ahan) dan tasykik (upaya menanamkan keraguan) terhadap para ulama ahlussunnah wal jama’ah yang marak menjamur akhir-akhir ini. Semuanya disuguhkan secara sistematis namun ringan. Buku ini tidak hendak bertujuan untuk memecah belah persatuan umat Islam, tetapi lebih merupakan sebuah upaya untuk mengingatkan akan bahaya dan menyadarkan umat dari paham-paham ekstrim tersebut.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar, semestinya memberikan perhatian tegas dan serius dalam upaya untuk mencegah dan menghentikan pengaruh pemahaman yang dapat mengarah pada tindakan terorisme dan eksklusivisme semacam ini, yang pada akhirnya dapat mengancam persatuan umat. Dalam salah satu komentar para tokoh tentang keberadaan buku ini, ketua MUI, KH Ma’ruf Amin menegaskan, “Dengan membaca buku ini diharapkan seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih sayangnya,lapang dada dalam menerima perbedaan dan adil dalam menyikapi permasalahan”.

Dan memang bagi para pembaca dari kalangan luar Wahabi, buku ini dapat memberikan informasi yang cukup, sehingga dapat mengetahui bahaya pengaruh serta mengetahui ciri paham ekstrim. Sedangkan bagi para simpatisan wahabi, buku ini juga dapat menjadi sumber informasi yang jelas, sehingga mereka akhirnya tahu dan sadar akan sejarah paham yang mereka anut. Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah Swt  untuk senantiasa tetap menuju ke jalan yang lurus dan benar.

* Aktivis PMII Solo.





PHOTO KEGIATAN PCI NU SUDAN

30 03 2011

This slideshow requires JavaScript.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.